RibakNews.com (Jakarta) —Selama beberapa pekan terakhir, persisnya di bulan Mei 2026, pulau Sumatera lagi-lagi dilanda gelombang pemadaman listrik massal yang meluas hingga melumpuhkan aktivitas ekonomi, layanan publik, dan kehidupan jutaan warga.
Dalam laporan resminya, PT PLN (Persero) menyebutkan, gangguan bermula dari terputusnya aliran pada jaringan transmisi 275 kV di wilayah Muara Bungo, Jambi yang kemudian memicu efek domino hingga menjatuhkan sejumlah pembangkit listrik besar dan merobohkan seluruh sistem kelistrikan pulau ini.
Namun di balik penjelasan teknis itu, ada satu fakta yang tak terbantahkan: kerentanan sistem ini sudah diketahui sejak lama. Seperti yang diakui sendiri oleh pihak PLN, tulang punggung penyaluran daya masih bertumpu pada jaringan 275 kV yang kapasitasnya terbatas dan belum memiliki jalur cadangan yang memadai.
Solusi atas masalah ini pun sudah digariskan secara jelas, pembangunan jaringan transmisi bertegangan tinggi 500 kV dari Muara Enim hingga Aur Duri, yang dirancang sebagai penyangga utama agar sistem tidak lagi mudah runtuh hanya karena satu gangguan kecil.
Masalah besarnya adalah: proyek krusial ini sudah digembar-gemborkan sebagai prioritas utama sejak tiga tahun lalu, namun hingga hari in saat pemadaman massal kembali terjadi, proyek tersebut masih terjebak di tahap perencanaan dan pengadaan, belum menyentuh tahap pembangunan fisik sama sekali. Dan di sinilah letak tanggung jawab terbesar, yang harus ditujukan langsung kepada sosok pemegang kendali tertinggi: Darmawan Prasodjo, yang akrab dan lebih sering disapa Darmo, sang Direktur Utama PLN.
Sebagai pimpinan tertinggi BUMN kelistrikan ini, Darmo adalah orang yang paling bertanggung jawab atas segala kebijakan, prioritas program, dan pelaksanaan proyek strategis nasional. Namun, kepemimpinannya justru sarat dengan kelemahan fatal, didorong oleh sifat narsistik yang parah, dimana ia lebih mementingkan pujian dan citra diri daripada kenyamanan serta keselamatan rakyat.
Berikut adalah empat bukti nyata kegagalan dan watak asli Darmo yang kini terbuka lebar:
1. Kesenjangan Antara Ucapan dan Tindakan: Prioritas yang Palsu dan Hanya Retorika
Ini adalah kelemahan paling mendasar dari kepemimpinan Darmo. Di setiap forum publik, konferensi pers, maupun laporan resmi kepada pemerintah, ia selalu menekankan bahwa penguatan jaringan transmisi adalah “tulang punggung” dan prioritas tertinggi investasi PLN. Ia berulang kali berjanji bahwa jaringan 500 kV Muara Enim–Aur Duri akan diselesaikan tepat waktu demi menjaga keandalan sistem Sumatera.
Tetapi data realisasi anggaran dan alokasi sumber daya membuktikan sebaliknya. Di bawah arahan Darmo, dana investasi lebih banyak diserap untuk pembayaran sewa pembangkit listrik yang konon mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit bagi pribadi dan kelompoknya.
Belum.lagi masalah pengadaan bahan bakar, atau program pemasaran dan layanan pelanggan yang di-digitalisasi tetapi setiap pegawai PLN sebagai ujung tombak harus mengisi review terhadap aplikasi PLN Mobile dengan bintang 5 atau berganti posisi sehingga semuanya bersifat seremonial dan terlihat bagus di laporan kinerja.
Sementara itu, anggaran untuk pembangunan jalur transmisi utama justru dipangkas, ditunda penyalurannya, atau dialihkan ke proyek lain yang dianggap lebih “menarik”.
Akibatnya, terjadi ketimpangan fatal: kapasitas pembangkit listrik di Sumatera sebenarnya sudah berlebih, namun daya tersebut tidak bisa disalurkan dengan aman dan lancar karena jalur penyalurannya belum diperkuat.
Ini adalah kesalahan strategi perencanaan yang sangat mendasar—seperti membangun waduk besar tetapi lupa membuat saluran airnya. Dan kesalahan perencanaan strategis ini adalah tanggung jawab mutlak Direktur Utama.
Fakta bahwa proyek ini tahap perencanaan dan pengadaan setelah lebih dari tiga tahun, padahal diklaim sebagai prioritas utama, membuktikan bahwa komitmen Darmo hanyalah omong kosong belaka. Ia pandai berjanji di depan kamera, tetapi gagal mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.
2. Risiko Diketahui Tapi Diabaikan, Ditambah Sejarah Laporan Palsu Kepada Menteri
Kelemahan kedua, dan yang paling parah, adalah sikap manajemen di bawah pimpinan Darmo yang membiarkan risiko besar menjadi bencana yang berulang, ditambah dengan rekam jejak buruk di mana ia berani menyampaikan data dan laporan yang tidak benar kepada pimpinan tertinggi pemerintahan.
Perlu ditekankan: PLN dan Darmo sudah tahu persis kondisi sistem kelistrikan Sumatera yang sangat rentan ini. Studi kelayakan, analisis keandalan sistem, dan laporan tim teknis sudah bertahun-tahun memperingatkan bahwa selama jaringan 500 kV Muara Enim–Aur Duri belum beroperasi, sistem Sumatera berada dalam kondisi berbahaya.
Mereka sudah tahu bahwa jaringan 275 kV yang ada saat ini tidak memiliki cadangan, dan satu gangguan kecil saja di satu titik bisa memicu keruntuhan total sistem seluruh pulau. Mereka sudah tahu risiko itu, mereka sudah punya solusinya, tapi mereka sengaja membiarkan situasi berbahaya ini berlangsung bertahun-tahun.
Tujuannya apa? Hanya Darmo dan kelompoknya yang paham karena mereka adalah avonturir politik yang bisa dengan mudahnya menjelma dari baju merah ke warna baju yang sedang berkuasa.
Di bawah kepemimpinan Darmo, manajemen PLN memilih sikap pasif dan berharap masalah tidak terjadi, alih-alih bertindak tegas untuk menutup celah risiko tersebut. Ia tidak memprioritaskan percepatan proyek ini sebagai hal darurat nasional. Ia tidak menempatkan proyek ini di jalur cepat. Ia membiarkan waktu berlalu, membiarkan proyek macet di tahap administrasi, sementara jutaan rakyat dan kegiatan ekonomi sangat bergantung pada sistem yang rapuh itu.
Dan ingatlah baik-baik oleh seluruh masyarakat Indonesia: Ini bukan kali pertama Darmo terbukti memberikan laporan yang tidak benar demi menyelamatkan wajahnya sendiri.
Saat banjir besar melanda wilayah Aceh dan sebagian Sumatera beberapa waktu lalu, di mana ratusan desa dan ribuan rumah terendam serta infrastruktur hancur lebur, Darmo dengan lantang melaporkan langsung kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, bahwa pemulihan pasokan listrik telah berjalan lancar dan hampir 100% pulih dalam waktu singkat.
Dia melaporkan bahwa tim PLN sudah bekerja tuntas dan listrik sudah menyala kembali di seluruh wilayah terdampak.
Tapi faktanya? Itu adalah laporan PALSU.
Fakta di lapangan saat itu membuktikan bahwa ratusan titik pemukiman masih gelap gulita berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah tanggal yang ia laporkan sebagai “segera pulih”.
Pemerintahan dan Warga Aceh marah besar karena masih hidup dalam kegelapan, sementara pemimpin tertinggi PLN itu dengan santai melaporkan keberhasilan yang tidak nyata kepada Menteri. Saat itu juga terungkap bahwa Darmo berani memanipulasi data dan memberikan informasi keliru kepada pejabat tinggi negara hanya untuk terlihat berprestasi, tanpa peduli penderitaan nyata rakyat di bawah sana.
3. Ahli Pidato, Nol Eksekusi: Sibuk Konferensi Pers Hanya demi Menjilat Atasan
Ada satu lagi watak khas kepemimpinan Darmo yang kini sudah tercium jelas oleh publik: ia adalah pemimpin yang sangat pandai bicara, sangat pandai berakting di depan kamera, tetapi sama sekali lemah dalam pelaksanaan di lapangan.
Setiap kali terjadi masalah besar, setiap kali pemadaman massal terjadi, reaksi pertama Darmo bukanlah turun ke lokasi atau memerintahkan pembenahan mendasar, melainkan menggelar konferensi pers secepat mungkin.
Di depan media, ia akan berbicara panjang lebar, menggunakan istilah teknis yang rumit, meyakinkan semua orang bahwa “semuanya terkendali”, “penyebab sudah diketahui”, dan “perbaikan sedang berjalan cepat”. Ia berjanji masalah akan selesai, ia berjanji sistem akan diperkuat, ia berjanji pemadaman tidak akan terulang.
Namun setelah mikrofon dimatikan dan kamera berhenti merekam? Tidak ada tindakan nyata, tidak ada perubahan, dan tidak ada perbaikan. Semuanya berhenti di ucapan saja. Konferensi pers itu hanyalah pertunjukan sandiwara belaka, satu-satunya tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan kepada atasan dan pejabat tinggi negara bahwa “Direktur Utama sudah bekerja, sudah mengurus masalah”, padahal kenyataannya masalah yang sama terus berulang hingga berkali-kali.
Sikap pilih kasih dan ketulusan kerja Darmo ini terbukti sangat nyata dari pernyataan kontroversialnya yang pernah menggema: “Jakarta tidak boleh padam karena Presiden sedang ada di Jakarta.” Kalimat ini membuka mata seluruh rakyat Indonesia akan pola pikir asli Darmo.
Baginya, keandalan listrik bukanlah hak seluruh warga negara, melainkan hanya prioritas jika ada pejabat tinggi atau Presiden yang ada di tempat itu. Jakarta dijaga ketat bukan karena rakyat Jakarta lebih penting, tapi karena pusat kekuasaan ada di sana. Sementara Sumatera, Aceh, atau daerah lain yang jauh dari pusat pemerintahan? Boleh saja padam berhari-hari, boleh saja sistemnya rusak bertahun-tahun, boleh saja proyek penyelamatnya tertunda tiga tahun, karena di sana tidak ada Presiden.
Ini adalah bukti nyata bahwa seluruh kebijakan Darmo tidak berorientasi pada pelayanan publik, melainkan murni untuk menjilat atasan dan menyenangkan kekuasaan. Ia hanya bekerja keras jika ada manfaatnya bagi karir dan citranya di mata pejabat tinggi, tetapi mengabaikan tanggung jawab dasarnya untuk menjamin listrik menyala di seluruh pelosok negeri.
4. Sifat Narsistik: Gembar-gembor Keuntungan Palsu, Sembunyikan Kebocoran Biaya
Puncak dari sifat buruk Darmo adalah sifat narsistik yang sangat parah. Dalam setiap kesempatan, setiap laporan tahunan, dan setiap pidato di depan publik, ia selalu membusungkan dada dan berteriak lantang: “Di bawah kepemimpinan saya, PLN mencatatkan penjualan dan keuntungan terbesar sepanjang sejarah!”
Ia mengulang-ulang klaim ini seolah-olah itu adalah prestasi besar hasil kerja keras dan kecerdasannya sendiri, seolah-olah dialah jenius yang berhasil memajukan perusahaan listrik negara ini.
Darmo menempatkan dirinya sebagai sosok paling sukses, paling hebat, dan paling berprestasi di mata pemerintah dan publik.
Tapi coba kita bedah fakta yang sebenarnya, dan lihat betapa narsis dan penipuannya klaim ini.
Pertama, fakta sederhana yang diketahui semua orang: Jumlah penduduk Indonesia bertambah setiap tahun. Jumlah rumah tangga yang terpasang listrik bertambah setiap tahun. Jumlah bangunan dan industri baru bertambah setiap tahun. Sudah menjadi hukum alam dan hal yang pasti, bahwa setiap tahun volume penjualan listrik akan semakin besar dan pendapatan akan semakin naik.
Jelas ini bukan prestasi direksi, ini adalah dampak pertumbuhan penduduk dan pembangunan nasional. Siapa pun yang duduk di kursi itu, angka penjualan pasti akan naik. Darmo membanggakan hal yang wajar dan pasti terjadi, seolah-olah itu adalah keajaiban yang ia ciptakan sendiri.
Kedua, dan yang paling penting: Apakah ada yang pernah meneliti rasio biaya produksi terhadap volume penjualan? Tidak ada! Karena Darmo sengaja menyembunyikannya.
Jika kita teliti lebih dalam, meskipun angka penjualan dan keuntungan dalam rupiah terlihat besar secara nominal, biaya produksi per satuan listrik yang dijual justru semakin membengkak di bawah kepemimpinan Darmo.
Artinya: Untuk menghasilkan dan menjual 1 kWh listrik, biaya yang dikeluarkan PLN saat ini jauh lebih mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Efisiensi justru menurun drastis. Uang yang masuk memang lebih banyak karena pelanggan bertambah, tapi uang yang keluar untuk biaya bahan bakar, operasional, dan pemeliharaan justru tumbuh jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan.
Namun, Darmo tidak pernah membahas hal ini. Ia hanya menampilkan angka besar di depan, lalu bersorak sorai seolah-olah ia manajer terbaik dunia. Ia menutup mata terhadap ketidakefisienan yang parah, pemborosan anggaran, dan manajemen biaya yang buruk, selama angka akhir keuntungan masih terlihat besar secara nominal karena jumlah pelanggan yang terus bertambah.
Ini adalah ciri khas seorang narsisis sejati: hanya mau melihat dan memamerkan apa yang membuatnya terlihat hebat, sementara sengaja mengabaikan dan menyembunyikan segala hal yang menunjukkan kegagalan, ketidakefisienan, dan kebobrokan di dalamnya.
Bagi Darmo, angka keuntungan hanyalah alat untuk memuji diri sendiri dan mengamankan posisinya, bukan indikator kinerja nyata perusahaan yang sehat dan efisien.
Kini sejarah terulang kembali di Sumatera. Sekali lagi, sistem kelistrikan runtuh karena kelalaian manajemen di bawah pimpinan Darmo. Sekali lagi, ia bersembunyi di balik alasan teknis dan gangguan cuaca. Sekali lagi, ia mungkin akan segera mengadakan konferensi pers baru untuk berjanji lagi hal yang sama.
Sekali lagi, ia akan berteriak soal keuntungan besar PLN sebagai tameng bahwa segalanya beres. Dan sekali lagi, rakyatlah yang menjadi korban ketidakbecaran, ketidakjujuran, sifat penjilat, dan sifat narsis pemimpin ini.
Pemadaman yang terjadi berulang kali dalam beberapa pekan terakhir bukanlah musibah yang tidak terduga, melainkan konsekuensi logis dari kelalaian, budaya laporan palsu, sikap hanya pandai bicara, dan sifat narsistik yang dibawa Darmo.
Kerugian ekonomi yang mencapai ratusan miliar rupiah, kerusakan alat elektronik warga, gangguan rumah sakit, sekolah, dan industri—semua dampak buruk ini adalah akibat langsung dari kepemimpinan Darmo yang mengabaikan risiko, berbohong demi citra diri, membeda-bedakan rakyat, dan sibuk memuji diri sendiri di atas penderitaan masyarakat.
Pengamat energi menilai, sikap ini sangat mencoreng wajah kepemimpinan Darmo. “Seorang pemimpin yang narsis hanya akan melihat cermin, bukan melihat rakyat. Ia bangga pada angka penjualan yang memang pasti naik, tapi malu dan menutup-nutupi biaya produksi yang makin boros serta sistem yang makin rapuh. Itulah gambaran nyata PLN saat ini,” ungkap seorang pengamat energi.
Saat ini, publik tidak lagi puas dengan penjelasan teknis yang menyalahkan cuaca atau peralatan. Masyarakat sudah melihat pola yang sangat jelas: janji manis yang tidak ditepati, risiko yang dibiarkan meledak, sejarah panjang laporan palsu, sikap pilih kasih, dan sifat narsis yang memamerkan keuntungan nominal sambil menyembunyikan kebocoran biaya.
Sebagai pemegang jabatan tertinggi, Darmo tidak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab. Selama proyek strategis ini masih tertunda di bawah kepemimpinannya, dan selama ia masih menggunakan angka statistik wajar sebagai kemenangan pribadi sambil membiarkan sistem rusak, maka nama Darmawan Prasodjo akan selalu dikaitkan dengan kegagalan manajemen dan ketidakjujuran yang paling merugikan masyarakat luas.
Pertanyaannya kini bukan lagi apa penyebabnya, melainkan: Apakah Darmo memiliki keberanian untuk mengakui kegagalan, kelalaian, sifat narsis, dan kebohongannya itu? Atau, apakah rakyat harus terus menanggung akibat dari pemimpin yang sibuk memuji diri sendiri, sibuk menjilat atasan, berbohong demi nama baik sendiri, dan melupakan tugas utamanya melayani seluruh bangsa?
Apakah para atasannya akan tetap menikmati jilatan dan janji Darmo yang tidak pernah usai dengan mengorbankan kepentingan orang banyak? Apakah para atasannya menyadari untuk menjatuhkan hukuman kepada Darmo dengan perintah push-up seperti yang sering dilakukan Darmo pada pegawai PLN di setiap level jika ditemuinya tidak sesuai dengan keinginan hatinya? Apakah negeri ini akan tetap begini dengan membiarkan seorang melakukan pekerjaannya dengan cara berbohong dan manipulasi?.
Penulis : H. Teuku Yudhistira, M.I.Kom, Koordinator Nasional Relawan Listrik untuk Negeri (Kornas Re-LUN).











