Literasi Keuangan Digital Jadi Kunci Kesejahteraan Melenial Dan Gen Z

RibakNews.com (Rohil) —Perkembangan ekonomi digital di Indonesia yang semakin pesat membawa kemudahan sekaligus tantangan baru, khususnya bagi generasi milenial dan Generasi Z. Kemudahan transaksi melalui e-wallet, paylater, hingga aplikasi investasi digital menuntut kemampuan literasi keuangan yang memadai agar generasi muda tidak terjebak dalam risiko finansial jangka panjang.

Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, Fauzi Bima Sakti, menegaskan bahwa literasi keuangan digital menjadi faktor kunci dalam menciptakan kesejahteraan finansial generasi muda di era ekonomi digital. Menurutnya, meskipun milenial dan Gen Z dikenal sebagai digital natives, pemahaman mereka terhadap manajemen keuangan masih relatif rendah.

“Banyak anak muda yang memiliki akses luas terhadap produk keuangan digital, tetapi belum dibekali kemampuan mengelola keuangan secara bijak. Akibatnya, muncul perilaku konsumtif, penyalahgunaan paylaterhingga terjebak investasi bodong,” ujarnya.

Data menunjukkan penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) meningkat signifikan di kalangan usia 18–35 tahun. Kemudahan proses persetujuan dan minimnya verifikasi sering mendorong pengguna berbelanja di luar kemampuan finansialnya. Kondisi ini diperparah dengan praktik “gali lubang tutup lubang” yang berpotensi menimbulkan spiral utang konsumtif dengan bunga tinggi.

Selain itu, maraknya investasi digital juga menghadirkan risiko tersendiri. Minimnya pemahaman tentang risiko dan mekanisme investasi membuat banyak investor pemula mudah tergiur janji keuntungan besar dalam waktu singkat. Berbagai kasus investasi ilegal dan penipuan berkedok trading maupun aset kripto masih terus bermunculan dan merugikan masyarakat.

Fauzi menekankan bahwa literasi keuangan digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan aplikasi keuangan, tetapi juga mencakup perencanaan keuangan, manajemen risiko, evaluasi produk keuangan, serta disiplin dalam mengelola pengeluaran dan investasi.

Ia juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam meningkatkan literasi keuangan digital. Menurutnya, institusi pendidikan perlu mengintegrasikan materi financial literacy, fintech, dan perencanaan keuangan pribadi ke dalam kurikulum, serta memperkuat kegiatan edukasi melalui seminar, workshop, dan pengabdian masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah dan regulator diharapkan memperketat pengawasan terhadap produk paylater dan investasi digital, serta meningkatkan edukasi keuangan secara masif dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, industri fintech, perguruan tinggi, dan media dinilai penting untuk menciptakan ekosistem keuangan digital yang inklusif dan edukatif.

“Literasi keuangan adalah investasi jangka panjang. Dengan pemahaman yang baik, teknologi finansial dapat menjadi alat pemberdayaan, bukan justru sumber masalah,” tutup Fauzi.

Karya : Fauzi Bima Sakti

(Ridho).