ARTIKEL
RibakNews.com (Riau) —Menatap masa depan peternakan domba dan kambing di Riau: Antara potensi nutrisi, keterbatasan pakan, dan tantangan pengembangan
1. Pendahuluan: Sebuah Refleksi dari Lahan Riau.
Saya masih ingat saat berkunjung ke sebuah peternakan kambing di pinggiran Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Peternak, Bapak paruh baya dengan senyum ramah, memaparkan bagaimana pada musim hujan hijauan melimpah, tetapi begitu tiba musim kemarau, padang rumput menguning, dan pakan alternatif sulit didapat.
“Kadang kambing saya hanya makan rumput tua yang seratnya sudah keras,” ujarnya sambil menunjuk kandang sederhana.
Kondisi seperti ini menyiratkan satu kenyataan: potensi besar peternakan domba dan kambing di Riau belum tergarap secara optimal. Bahkan ketika kita tahu bahwa permintaan daging ternak kecil secara nasional terus meningkat, kondisi nutrisi dan pakan menjadi bottleneck yang sering tidak tertangani.
Menurut Badan Pusat Statistik (2025), populasi domba di Riau tercatat 8.615 ekor pada 2024, sedangkan populasi kambing di Riau tercatat 21.904 ekor di tahun yang sama. Angka ini menyiratkan bahwa skala usaha peternakan kecil masih mendominasi dan belum mencapai angka besar, yang artinya jika dikelola dengan lebih baik, potensi peningkatan signifikan terbuka luas.
Tapi mengapa, dengan potensi seperti itu, kita belum melihat geliat besar di sektor ini? Jawabannya banyak tersadarkan pada aspek nutrisi dan pakan, yang seringkali dianggap “rutin”, padahal justru menjadi tulang punggung produktivitas. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang kondisi nutrisi dan pakan, potensi bahan pakan lokal di Riau, gap di lapangan, dan arah solusi ke depan, sekaligus mengajak kita semua (peneliti, pemerintah, peternak) untuk berkolaborasi.
2. Kondisi Aktual Nutrisi dan Pakan di Lapangan.
Mari kita mulai dengan realitas, apa yang terjadi di kandang peternak? Di banyak peternakan domba dan kambing di Riau, hijauan alam (rumput, leguminosa, dan produk samping perkebunan dan pertanian), masih menjadi pakan utama. Pada musim hujan, memang hijauan relatif mudah diperoleh, tetapi dari sisi nutrisi sering kali kualitasnya menurun saat musim kemarau karena faktor usia pemotongan yang sudah tua atau pengaruh lingkungan.
Misalnya sebuah studi di Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan bahwa sebagian besar peternak masih mengandalkan kombinasi rumput dan “solid” pakan sederhana, sedangkan penggunaan pakan fermentasi atau konsentrat sangat sedikit. Konsentrat murni hanya digunakan oleh sangat sedikit peternak karena biaya yang lebih tinggi (Wiranti, 2025).
Lebih lanjut, penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan tambahan yang bernutrisi seperti Urea Molasses Block (UMB) pada kambing dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) sekitar 8-12% dibanding tanpa pemberian pakan tambahan (Zurriyati, 2017). Hal ini mengingatkan kita bahwa hanya mengandalkan hijauan tanpa suplementasi atau pengolahan mungkin tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas domba dan kambing.
Namun di Riau, sebagian besar peternak belum menerapkan teknologi pengolahan pakan seperti silase melalui proses fermentasi dan amoniasi bahan pakan lokal. Sebuah kajian umum menyebut bahwa “setiap usaha pembibitan kambing dan domba harus menyediakan pakan yang cukup baik hijauan maupun konsentrat”, tetapi kenyataannya di lapangan masih sangat tradisional (Sadarman dkk., 2025).
Dari data BPS Provinsi Riau tahun 2024, tercatat populasi ternak menurut jenis dan kabupaten/kota. Meskipun angka-angka spesifik domba/kambing di setiap kabupaten/kota sulit diakses secara cepat, data agregat menunjukkan bahwa skala usaha masih kecil dan tersebar (Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, 2025). Kondisi itu memunculkan beberapa konsekuensi nyata:
Nutrisi pakan yang belum optimal → produktivitas (pertumbuhan, reproduksi), rendah.
Ketergantungan pada hijauan segar → rentan terhadap musim kemarau/ketidakstabilan pasokan.
Peternak dengan skala kecil dan manajemen tradisional → sulit menerapkan inovasi pakan.
Dengan demikian, aspek nutrisi dan pakan bukan sekadar “pelengkap”, tetapi menjadi faktor kunci yang bisa menentukan apakah usaha peternakan domba dan kambing bisa naik kelas atau tetap stagnan.
3. Potensi Sumber Daya Lokal untuk Pakan Alternatif
Jika kita melihat peta Riau, terdapat banyak potensi bahan pakan alternatif yang hingga kini belum dimaksimalkan dengan baik. Riau adalah wilayah perkebunan besar, khususnya kelapa sawit, yang menghasilkan limbah pelepah, daun sawit, dan hasil samping lainnya. Limbah ini jika diolah dengan benar bisa menjadi pakan ruminansia kecil (domba/kambing) yang bernutrisi dan ekonomis.
Sebagai contoh, di Kabupaten Kampar ditemukan bahwa limbah pelepah dan daun sawit sangat besar volumenya dan memiliki potensi sebagai bahan pakan (Febrina dkk., 2025), selain itu, Sadarman dkk. (2024) menyatakan bahwa melalui teknologi fermentasi atau ensilase bahan limbah perkebunan dan pertanian, dapat meningkatkan kualitas dengan cara menurunkan serat kasar, meningkatkan kecernaan, dan menjadikan bahan pakan yang layak dikonsumsi oleh ruminansia kecil.
Tidak hanya limbah sawit, hijauan pekarangan, tanaman legum lokal, dan tanaman musim kemarau juga bisa dioptimalkan. Sebagai ilustrasi: penggunaan kombinasi pakan fermentasi + konsentrat dalam penelitian di Bangko Pusako memberikan hasil bobot lebih cepat dibandingkan kombinasi rumput + solid (Wiranti, 2025).
Keunggulan pemanfaatan bahan lokal di Riau bisa dijabarkan sebagai berikut:
Biaya lebih efisien: Bahan limbah/perkebunan murah atau tersedia secara lokal.
Ketahanan pasokan: Bahan lokal bisa tersedia sepanjang tahun atau diolah menjadi stok (silase/haylage) untuk musim kering.
Keberlanjutan lingkungan: Memanfaatkan limbah perkebunan berarti mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan sinergi antara sektor perkebunan dan peternakan.
Potensi nilai tambah bagi peternak kecil: Dengan bahan pakan murah dan lokal, margin keuntungan peternak bisa meningkat.
Namun untuk memanfaatkan potensi ini secara optimal, dibutuhkan teknologi pengolahan, fasilitas penyimpanan, pengetahuan peternak, dan alur distribusi yang baik; hal yang belum sepenuhnya tersedia di lapangan.
4. Gap dan Tantangan Pengembangan
Mari kita buat daftar nyata dari gap dan tantangan yang menghambat pengembangan domba dan kambing di Riau, dilihat dari aspek nutrisi dan pakan :
Teknologi Pengolahan Pakan Terbatas
Walaupun teknologi seperti silase, amoniasi, dan fermentasi sudah dikenal dalam literatur, adopsinya di tingkat peternak skala kecil di Riau masih terbatas. Modal, fasilitas penyimpanan, inokulum mikroorganisme, dan kapasitas teknis peternak menjadi penghambat. Sebagai contoh: sebuah penelitian menyebut bahwa peternak masih menggunakan rumput dan solid pakan sederhana karena faktor biaya dan kemudahan (Wiranti, 2025).
Akses menuju pakan berkualitas dan konsentrat masih sulit, Peternak domba atau kambing skala kecil kerap menghadapi masalah dalam memperoleh konsentrat atau bahan pakan tambahan karena harga tinggi atau distribusi yang belum merata. Akibatnya, kualitas ransum pakan rendah dan produktivitas ternak pun ikut rendah.
Musiman dan Ketidakpastian Hijauan
Musim kemarau adalah masalah klasik. Hijauan yang tersedia menurun kuantitas dan kualitasnya. Apabila tidak ada persiapan (silase, stok hijauan), peternak akan terdampak buruk; pertumbuhan lambat, bobot menurun, atau bahkan kematian. Ini yang sering dikeluhkan peternak di lapangan.
Sebagian besar peternak domba atau kambing masih dalam skala kecil, manajemen tradisional, dan jarang menggunakan ransum seimbang atau teknologi pakan. Sebuah riset menyebut bahwa teknologi budidaya ternak mencakup bibit, kandang, pakan, obat-obatan dilakukan secara tradisional dan tersedia di lokasi; jumlah peternak skala kecil sangat dominan.
Pengolahan bahan limbah perkebunan menjadi pakan peternakan memerlukan integrasi antara sektor perkebunan, pemerintah daerah, dan peternakan. Namun sering belum ada model kerja yang optimal. Lingkungan juga perlu diperhatikan, misalnya pemanfaatan limbah harus dilakukan dengan tetap menjaga keberlanjutan.
Keterbatasan Data dan Monitoring
Meskipun BPS menyediakan data agregat, data terperinci mengenai jenis bahan pakan yang digunakan peternak, performa produksi domba/kambing di tiap kabupaten, atau efektivitas pengolahan pakan lokal masih belum banyak tersedia. Keterbatasan ini menghambat pengambilan keputusan yang berbasis bukti (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2025).
Secara keseluruhan, gap-gap di atas membentuk “langkah terhambat” bagi peternakan domba dan kambing di Riau. Meskipun potensi besar, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar potensi tersebut terwujud.
5. Peran Riset dan Inovasi Pakan dalam Mengatasi Tantangan
Ini bagian di mana saya ingin menekankan: sebagai akademisi/peternak/peneliti, kita punya peran besar untuk mendorong solusi nyata.
Riset Terapan Teknologi Pakan Lokal
Penelitian harus diarahkan pada pemanfaatan bahan lokal (limbah sawit, legum, hijauan pekarangan) dengan teknologi pengolahan yang cocok untuk skala peternak kecil. Contoh: Silase tebon jagung dengan memanfaatkan sirup komersial afkir dapat menjadi solusi pakan ternak pada musim kemarau (Sadarman dkk., 2024). Urea Molasses Block pada kambing berhasil meningkatkan pertumbuhan (Zurriyati, 2017). Inovasi perlu diarahkan agar mudah diterapkan oleh peternak, murah, dan efisien.
Pelatihan & Pendampingan Peternak
Hasil riset tidak akan berguna bila tidak diterjemahkan ke peternak. Pelatihan bagaimana membuat silase, fermentasi, ransum sederhana, dan manajemen pakan musiman harus rutin dilakukan. Peternak harus dilibatkan sejak awal agar rasa kepemilikan muncul.
Gagasan : bangun unit pengolahan pakan (misalnya fermentasi limbah sawit atau silase hijauan) di level desa atau kecamatan, peternak bisa menjadi anggota, berbagi biaya, dan memperolehnya bersama. Ini bisa menurunkan modal individu dan meningkatkan skala ekonomi.
Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi, BRIN, dan Pemerintah Daerah
Akademisi dan peneliti, penting untuk membangun kemitraan formal antara universitas, lembaga riset (seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional-BRIN), dan pemerintah daerah. Program riset bersama yang menguji teknologi pakan lokal, lalu pilot di lapangan, kemudian menskalakan, ini model yang ideal.
Monitoring & Evaluasi Berbasis Data
Riset juga mengharuskan pengukuran performa ternak atau performa usaha peternakan sebelum dan sesudah intervensi pakan: pertumbuhan bobot badan, reproduksi, biaya pakan, dan margin keuntungan. Data seperti ini sangat berharga agar kebijakan atau pendampingan bisa diarahkan dengan tepat. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa analisis profitabilitas usaha kambing masih tradisional dengan menggunakan metode sederhana (Alfian, 2022).
Dengan melakukan semua hal di atas, kita bisa mulai menjembatani gap antara potensi dan realitas, menjadikan bahan pakan lokal bukan hanya alternatif, tetapi bagian integral dari sistem produksi yang efisien dan berkelanjutan.
6. Kebijakan, Kolaborasi, dan Harapan ke Depan
Kini kita berpindah ke ranah yang lebih luas: bagaimana kebijakan dan kolaborasi memegang peran kunci.
Kebijakan Pro‐Pakan Lokal
Pemerintah Provinsi Riau melalui dinas terkait perlu mengembangkan kebijakan yang mendukung: misalnya insentif bagi peternak yang menggunakan pakan lokal terolah, subsidi untuk pembelian bahan pakan atau peralatan fermentasi, serta program kemitraan antara kebun sawit dan peternakan domba/kambing. Contoh: Kontes domba/kambing nasional yang difasilitasi oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, sebuah langkah untuk meningkatkan visibilitas dan semangat peternak (dispkh.riau.go.id).
Integrasi Lintas Sektor, Potensi limbah sawit akan optimal bila sektor perkebunan, sektor peternakan, dan riset bisa saling terhubung. Misalnya kebun kelapa sawit menyediakan pelepah untuk diolah menjadi silase oleh peternak di sekitar lokasi, sementara lembaga riset memberi teknologi, dan pemerintah menyediakan fasilitasi logistik atau infrastruktur.
Penguatan Peternak Kecil
Karena mayoritas peternak domba/kambing di Riau adalah skala kecil, maka program pembinaan, akses modal mikro, dan penguatan manajemen usaha sangat penting. Peternak perlu difasilitasi agar bisa naik kelas: dari sistem tradisional ke semi-komersial, dengan ransum yang lebih baik, teknologi paket pakan, dan jaringan pemasaran yang lebih luas.
Ekonomi Sirkular dan Keberlanjutan Lingkungan Memanfaatkan limbah perkebunan sebagai pakan bukan saja efisien secara ekonomi, tetapi juga bijak lingkungan. Tetapi keberlanjutan harus dijaga: pengelolaan limbah harus aman, tidak merusak ekosistem, dan memperhatikan aspek tenaga kerja serta nilai tambah lokal.
Harapan ke Depan
Bayangkan sebuah skenario: Peternak di Rokan Hilir atau Kampar bisa membeli silase pelepah sawit yang diolah komunitas peternak dengan harga terjangkau, lalu ternak domba/kambing mereka tumbuh dengan PBBH yang lebih tinggi, reproduksi meningkat, peternak mendapat keuntungan lebih baik, generasi muda tertarik terjun ke usaha ternak, dan Riau menjadi salah satu provinsi yang menyumbang daging domba dan kambing secara regional. Semua itu bukan sekadar mimpi, tapi bisa diwujudkan jika kita fokus pada nutrisi dan pakan.
7. Refleksi Penutup: Mengubah Potensi Menjadi Kinerja
Saat saya berdiri di tengah kebun sawit yang luas, melihat jejak-jejak pelepah berserakan, saya berpikir: “Bagaimana jika semua itu bisa menjadi sumber pakan yang produktif bagi domba dan kambing peternak lokal?” Potensi besar itu ada, hanya menunggu tindakan nyata.
Pakan bukan hanya rumput atau konsentrat yang dibeli di luar. Pakan adalah kehidupan peternakan. Tanpa pakan yang baik, sehebat apapun bibit atau manajemennya, usaha peternakan sulit tumbuh signifikan. Dan di Riau, bahan lokal tersedia, tetapi penerapannya belum optimal.
Sebagai akademisi, kita punya tanggung jawab: riset yang relevan, publikasi yang dapat diakses peternak, dan pendampingan yang nyata. Sebagai pemerintah, kita punya tanggung jawab: kebijakan yang memfasilitasi, bukan menghambat. Sebagai peternak, kita punya tanggung jawab: belajar, mencoba inovasi, dan berkolaborasi.
Kini adalah saatnya menjembatani kesenjangan antara potensi dan realita. Jika kita bisa memperkuat aspek nutrisi dan pakan dengan strategi yang tepat melalui teknologi, pelatihan, kolaborasi lintas sektor maka peternakan domba dan kambing di Riau bisa naik kelas: dari usaha subsisten ke usaha komersial yang berkelanjutan. Kita bisa mewujudkan Riau yang tidak hanya mengandalkan bahan baku dari luar, tetapi menjadi provinsi yang mandiri dalam daging domba dan kambing bahkan bisa menjadi pemasok bagi wilayah lain.
Mari kita mulai dari hal sederhana: hijauan yang diolah lebih baik, limbah sawit yang dimanfaatkan, peternak yang terlatih, dan sinergi yang nyata. Potensi besar itu menanti, mari kita ubah menjadi kinerja nyata.
1 Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
2 Dosen Nutrisi dan Pakan Ternak Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Penulis: Harun Arrasyid1 dan Assoc. Prof. Dr. Ir. Sadarman, S.Pt., M.Sc., IPM2










