Jauh Dari Tempat Penduduk, Bangun Mushollah Diduga Hanya Menghambur-hamburkan Anggaran

“Habiskan Anggaran Puluhan Juta, Musholla yang dibangun Pemkam Sri Gemilang Hanya Seperti Pondok Biasa dan Diduga Belum Layak di Gunakan,”.

RibakNews.Com (Siak) –Kebijakan Pemerintah Kampung Sri Gemilang mengucurkan Dana Desa Puluhan Juta Rupiah untuk membangun Musholla, namun bentuknya hanya seperti pondok biasa saja dan tidak layak digunakan.

Bangunan tersebut dibuat di Kawasan Wisata pinggiran Sungai atau Jembatan Wisata Berembang, masyarakat menilai bahwa kebijakan belum tepat sasaran untuk saat ini. Pasalnya, saat ini tampak kondisi Wisata tersebut sudah lama dalam keadaan tidak terurus, bahkan rusak berat

Informasi dari masyarakat, bahwa bangunan Musholla yang sudah dibuat tersebut-pun belum layak digunakan, bahkan bukan seperti Musholla, apalagi di saat kondisi trek Jembatan Wisatanya dalam keadaan rusak berat dan hancur, bahkan sangat jelas kelihatan sudah lama tak terurus serta papan sebagai pijakan trek jembatan sudah banyak hilang dan lapuk. Tentu membuat dugaan orang yang melihat seperti ada kejanggalan dan juga menjadi tanda tanya bagi masyarakat, ada apa, diprioritaskan, pada saat kondisi masyarakat lagi dilanda kesulitan ekonomi.

Hasil pemantauan awak media langsung ke lokasi, Senin (26/06/2023), bersama dengan Ketua LSM Forkorindo Kabupaten Siak, tampak Kondisi Musholla belum layak digunakan, apa lagi di lokasi tersebut di pinggiran Sungai Siak, tepatnya lokasi di dalam Wisata Berembang yang tidak terurus sama sekali dan rusak berat, bahkan jauh dari rumah penduduk setempat.

Kemudian awak media langsung ke Kantor Pemerintah Kampung Sri Gemilang, menjumpai Penghulu Sri Gemilang Eswandi Candra untuk mengkonfirmasi terkait hal dimaksud. Selain Penghulu di kantor Kampung tersebut juga ada beberapa perangkat kampung, Bhabinkamtibmas, Ketua Bapekam yang juga merupakan saudara Kandung Penghulu dan beberapa warga lainnya menggunakan pakaian biasa. Sepertinya sudah dipersiapkan Penghulu menunggu kedatangan awak media dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Penghulu Sri Gemilang Eswandi Candra tersebut menyampaikan kepada awak media, bahwa Musholla yang dibangun tersebut sudah dikerjakan sesuai perencanaan pembangunan atau ketentuan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta sudah sesuai gambarnya, sedangkan anggaran yang digunakan dari Bantuan Dana Provinsi senilai Rp 46 juta Rupiah

“Kami tentu menjalankan ini sesuai dengan RAB yang telah dibuat, dengan gambar perencanaan pembangunan Musholla tersebut, yang berasal dari Dana Provinsi senilai 46 juta Rupiah. Mungkin ada masyarakat yang menduga bahwasanya banyak untunglah, yang telah menyampaikan kepada teman-teman media, ujarnya

Sebenarnya, banyak bahan yang tidak cukup, seperti atap dianggarkan hanya 20 keping, namun kenyataannya menghabiskan 1 setengah kodi. Kemudian ada pembuatan plang Informasi walaupun tidak ada dianggaran, kalau perlu ke lapangan mari kita hitung sama-sama,” ucap Penghulu

Kalau memang ada salah dimana salahnya, di situ ada pajak juga. Kemudian kenapa dibuat di pinggir sungai, karena di sungai adalah Daerah Aliran Sungai (DAS), jadi boleh-boleh saja dibuat pada lokasi itu, sedangkan kalau di darat, tentu harus ada hibah lahan. Selain itu pembangunan Musholla ini sesuai dengan instruksi Bupati Siak untuk penunjang tempat Wisata seperti tempat ibadah bagi pengunjung nantinya.

Penghulu Eswandi mengatakan,” bahwa Objek Wisata Mangrove yang ada itu dibangun kalau tidak salah pada tahun 2017 atau 2018 dengan anggaran sekitar 300 juta lebih, tidak sampai 400 ratus juta, itu banyak bangunan swadaya nya, bahkan tiang jembatan kami buat pakai cor,” tutur Penghulu Eswandi

Sementara itu, Ketua LSM Forkorindo Kabupaten Siak Syahnurdin kepada awak media menyampaikan, bahwa sangat menyayangkan sekali dengan kondisi wisata pinggiran sungai siak yang telah dibuat menggunakan Dana Desa baik dari Provinsi maupun APBN tersebut, terkesan sengaja tidak terawat dengan baik, tidak terurus lagi, bahkan papan pada trek jembatannya banyak yang lapuk, hilang tidak ada lagi. Sampai papan nama Objek Wisata juga tak tentu arah lagi letaknya.

”Kami melihat, bahwa Objek Wisatanya saat ini tidak jalan, tidak terurus, tapi dibangun lagi Musholla yang hanya seperti pondok biasa di sekitar sungai itu, dengan kondisi tak layak. Kami menilai bahwa itu belum layak di gunakan sebagai tempat ibadah, apalagi modelnya sangat kecil dan terbuka tanpa dinding serta fasilitas lainnya, belum ada. Kemudian lokasi tersebut tidak dijaga, bahkan sangat dikhawatirkan hanya menjadi program yang sia-sia saja. Seharusnya Penggunaan Dana Desa diarahkan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dan ekonomi desa,” sebut Syahnurdin

Lanjutnya lagi, ”kami berharap penggunaan Dana Desa harus diprioritaskan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dan untuk kesejahteraan masyarakat, dalam hal ini tentu harus sejalan dengan Prioritas penggunaan Dana Desa, yang bertujuan untuk pemulihan ekonomi nasional, program prioritas nasional, mitigasi, penanganan bencana alam dan non alam untuk mendukung pencapaian SDGs Desa,” tambah Syahnurdin

Oleh karena itu, masih kata Syahnurdin, ”sesuai informasi dari masyarakat dan hasil temuan kami di lapangan serta sesuai tupoksi yang kami miliki, maka kami selaku LSM terkait masalah ini, akan membuat pelaporan dan juga mengkonsultasikan kepada pihak Aparat Penegak Hukum (APH) yang ada, sesuai dengan apa yang kami temukan di lapangan secara langsung,” tutur Syahnurdin Ketua LSM Forkorindo Kabupaten Siak.

(TS/RED).